Sabtu, 08 Oktober 2011



Masjid

(Robohnya Pluralisme)

by awan swarga

“ kretek kretek…………..”

Rintih pohon jati tua karena tiupan angin yang membawa gumpalan awan hitam dari timur. Sehingga memenuhi penjuru langit.

Di senja ini yang ada hanya hawa dingin menusuk tulang. Bersama gerombolan kekelawar ngikik memutari bangunan masjid tua yang tidak terurus. Masjid yang temboknya tampak kusam dan pelesterannya telah ambrol di gerogoti lumut. Bahkan ruang wudhunya sudah ambruk di terjang hujan setahun lalu. Sementara pelatarannya yang luas itu kini menjadi lautan sampah berhamburan. Serta menjadi gumulan rumput ilalang lengkap dengan puluhan hewan melata di dalamnya.

“kretek kretek…………”

Pohon jati dibelakang masjid tua itu masih merintih. Sedang sang angin brengsek makin gemar mempermainkannya. Membiarkan dedaunan keringnya rontok menghujami atap masjid yang tak lagi karuan. Karena sebelumnya lebih dahulu di awut-awut oleh angin dan kejamnya hujan di bulan yang sebenarnya sudah kemarau. Sehingga jika hujan datang, seketika ruang tanpa atap itu tak luput dari amunisi air yang menghujam dari angkasa. Dan tentu saja ubinnya makin meleleh di bunuh hujan setelah terik mengintai. Maka ruangan kotor dan tampak angker itu tidak lagi layak di sebut masjid. Apalagi orang orang juga tak pernah sudi menyinggahinya. Mungkin mereka takut pada persekutuan setan dan iblis yang menghuninya. Kecuali jika mereka yang sengaja mengundang manusia untu datang.

“kretek-kretek……………”

Dasar angin brengsek! Dimana ia menyimpan rasa kasihan? Hingga dia tak memperdulikan tubuh jati makin kesakitan. Sampai jati tua itu menjadi terhadap sebuah tragedi di malam keparat. Ia teringat ketika hujan lebat bersanding dengan suara petir manyambar saling berkelebat bagai datangnya iblis yang lewat. Suaranya dar-dur-der………, seolah langit akan roboh.

Dalam kegelapan tanpa penerangan, sang pohon melihat tiga ekor manusia jantan datang dengan menyeret seekor gadis betina dalam keadaan telanjang bulat. Dan tragisnya mulut betina itu di bungkam dengan celana dalam hingga ia tak mampu lagi berteriak. Selanjutnya dengan bergiliran gadis itu diperkosa hingga robek kemaluannya. Tapi entah,,! Apa betina itu masih perawan atau justru telah robek sebelumnya? Namun langit tidak pernah memperdulikan hal itu. Karena ia terus saja menumpahkan airnya di daratan. Sementara auman keras sang petir semakin menakutkan. Dan yang pasti keesokan harinya mayat betina dengan segudang noda itu di temukan terkapar tanpa busana di atas lantai masjid yang basah oleh hujan di malam sebelumnya. Maka lengkaplah keangkeran yang tertanam di bekas masjid malang itu.

Dan setelah kejadian itu, hampir setiap malam sebelum ke seratus hari setelah kematiannya, para warga selalu di hantui suara perempuan kotor yang selalu terdengar menangis menghiasi malam. Sehingga malam terasa semakin angker saja.

Tapi kini warga tak lagi perduli. Sebab mereka berfikir bahwa bangkai masjid tua yang malang itu tak lagi menjadi bagian dari kehidupan mereka.

“ kretek-kretek…………”

Pohon jati semakin tersa nyeri dan tetap merintih kesakitan diantara godaan angin brengsek. Sementara kekelawar juaga masih ngikik mengitari masjid seolah melakukan sebuah peribadatan sebelum hujan benar benar datang. Dimana sang hujan budiman itu pasti akan menambah rapuh kayu kayu masjid yang telah lapuk. Dan ketinggalan akan merusak jala laba-laba yang seharian dirajut di seluruh ruangan masjid.

Lalu dimana hantu wanita itu?

Mengapa dia tidak lagi menangis?

Dan tak pernahkah terlintas di bena warga untuk mengingat kejayaan masjid jami’ yang bernama AL ANNUR itu?

Tapi bila mereka tidak lagi sudi untuk mengenangnya . setidaknya kalian yang harus selalu mengingatnya! Karena aku akan menceritakannya.

***

Dahulu

Iya, dahulu sekali dusun kecil di kaki gunung wilis begitu damai dengan kemajemukan. Tiga aliran muslim di satukan oleh seorang kyai besar. Entah siapa nama kyai itu? Namun warga memanggil beliau dengan gelar Mbah Kaji. Tiga aliran keagamaan yang berbaur itu adalah mereka kaum Nahdiyin, Muhamadiyah dan islam Kejawen. Mereka adalah aliran yang berbeda dan memiliki haluan masing-masing tentang keagamaan mereka.

kelompok Nahdiyin yang semi tradisional adalah kelompok yang paling mendominasi kampung,, karena Mbah Kaji memang berasal dari kelompok ini. Sementara Muhammadiyah yang mengaku lebih modern hadir karena di pelopori anak-anaknya setelah mereka pulang dari menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi . Di sisi lain penganut islam kejawen berkelompok di sekitar pepunden di pinggir kota.

Namun dengan kharisma Mbah Kaji yang begitu kuatlah yang membuat umat Islam di kampung pinggir hutan menjadi kampong religius yang majemuk. Hidup rukun tanpa gesekan idealisme dan di dalam masjid AN NUR ini mereka dipersatukan. Disinilah segala macam aktifitas keagamaan di adakan. Tanpa memandang kelompok dan golongan, baik mereka dari Nahdiyin, Muhammdiyah bahkan Kejawen sekalipun. Sementara kekeluargaan warga di perhangat dengan sedekah bumi atau gugur gunung yang di gelar setiap tahun setelah musim panen padi selesai. Di saat itu warga di hibur dengan tanggapan wayang kulit semalam suntuk.

Namun sayangnya pluralisme itu kini hanya sekedar kenangan lalu bagi warga, bagi desa permai dan bagi masjid yang kini merana. Jangankan kegiatan besar, akhirnya orang-orang pun tak lagi sudi mampir sejenak untuk menyinggahinya. Bahkan meludah sekalipun mereka tak mau.

Hal itu terjadi setelah kematian Mbah Kaji. Dimana berlahan-lahan tiga kelompok itu pecah. Mereka jadi saling mempersalahkan cara beribadah satu sama lain. Dan ketika cucu dari Mbah Kaji yang Muhamadiyah itu jadi kepala desa, dia melarang di adakannya gugur gunung, karena ritual yang ada dalam acara itu dekat dengan kemusrikan.

Semakin lama keadaan Muhamadiyah yang sebelumnya dianggap anak ingusan seketika berkembang pesat. Sementara Nahdiyin mulai kehilangan pembesar yang satu persatu dari mereka pulang ke hadirat Tuhan. Disisi lain anak mereka yang berpendidikan juga berpaling ke Muhamadiyah. Ini karena organisasi tersebut memang jauh lebih lebih modern dan terorganisir serta aksi-aksi nyata disbanding kaum Nahdiyin yang kuno. Tapi apapun alasannya, yang pasti keadaan Islam Kejawen makin terpinggirkan dengan bertahan di surau kecil mereka.

Dan kekacauan akhirnya membuncah di suatu idul fitri, di mana Shalat Ied dilaksanakan tiga kali berturut-turut selama tiga hari pada masjid yang sama. Yaitu masjid jami AN NUR. Mungkin inilah pangkal dari kemeranaan masjid Jami’ ini. Karena akhirnya muncul pendapat entah dari siapa? Bahwa masjid tidak boleh digunakan untuk shalat Ied lebih dari satu kali. Sampai akhirnya masing-masing kelompok berlomba mendirikan masjid untuk kelompok mereka sendiri. Hingga ujungnya masjid Jami’ yang dulu menjadi pusat peribadatan jadinya tidak terawat.

“kretek-kretek……………..”

Angin berengsek masih saja berhembus. Dia tetap saja memperdayai pohon jati yang sebenarnya telah rapuh. Karena terlalu sering di bunuh buliran yang makin deras. Dimana kilat menyambar dan petir menggelegar. Sementara suasana makin gelap dan udara semakin dingin. Biarkan jadi beku, kaku dan bisu.

“Persetan…” mungkin bisik angin dengan sinisnya. Selanjutnya angin yang mengaku berengsek itu berhembus makin kencang berhembus, makin kencang menampari pepohonan. Hingga goyah dahannya dan rontok terkapar di daratan.

“Persetan” sungguh angin marah dan lari makin kencang menabrak pepohonan hingga beberapa pohon tumbang.

“ keretek…………keretek……….push! brukkkkkkkkkkkkkk……………………..”

Akhirnya pohon jati tua penjaga masjid merana itu roboh juga. Batangnya yang besar ngglinting menimpa reruntuhan masjid hingga benar-benar runtuh tanpa keraguan, karena bangunan tersebut telah rata dengan tanah. Sementara jauh diatas sana tampak langit menangis tersedu. Bereteriak keras sebagai petir. Tapi seolah bagai seorang ayah yang tidak pernah punya dosa, angin berengsek itu dengan mudahnya berlalu meninggalkan puing yang dihasilkan dan lebih memilih menghampiri manusia-manusia yang bersembunyi di dalam rumah, sekedar menyeduh kopi lalu makan ubi. Dan disanalah angin itu berbisik:

“Persetan kau masjid runtuh,

Sebab sedikitpun mereka tak lagi butuh,”

Posted by awanswarga On 09.12 No comments READ FULL POST

Selasa, 30 November 2010





ZAUW

Wo sha ni sien cai


Zauw!

Embun basah menirai pagi dengan hawa dingin. meskipun tanpa angin , berkuntum kuntum bunga kamboja tampak jatuh dari dahannya, kemudian mereka terjerembab di atas tanah merah pemakaman umum Saradan

Sementara aku berdiri duka di samping pusaramu Zauw!

Dan aku masih melihat bekas bekas bunga kering yang bertabur di atas pemabaringan terakhirmu. Maka berlahan lahan aku tambah koleksi bunga yang berserakan itu dengan serangkaian bunga yang kemarin aku rangkai sendiri. Mungkin ini persemabahan terakhir dari sahabatmu Zauw. Sahabatmu yang dahulu tak pernah bisa terus menemanimu di gerbang lantamal V Surabaya, yang membiarkanmu sendirian ketika mendaftarkan diri sebagai CABA Angkatan Laut. Bukan maksudku untuk menghianatimu , atau mengingkari janji yang pernah kita ikrarkan bersama waktu SMK, tentang janji kita untuk sama sama masuk CABA AL. Tapi kau tahu sendiri kan zauw! Itu tak pernah mungkin untukku, aku tak sesempurna seperti apa yang kau lihat.

Tahukah kau Zuaw? kali ini senyumku merekah! teringat tadi subuh aku mendatangi rumahmu untuk menanyakan dimana kau di pusarakan? Dan tidak pernah aku sangka semua keluargamu memandangku aneh, bagai seorang asing yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Apalagi ibumu! Padahal ketika masih SMK aku sering menginap di rumahmu karena aku selalu takut menembus alas jati saradan sendirian!

" tidak apa apa ……..!" kata mereka sambil menahan tangis, sudah menjadi alasan klasik antara kau dan aku, mereka mereka jadi mengingatmu ketika mlihat wajahku, alasannya sama seperti yang dahulu dahulu, menurut mereka wajahku mirip dengan wajahmu, maka aku kembali mengenang kala SMK, ketika pak kantin bilang aku sudah bayar, padahal yang bayar itu kamu. Juga anak anak yang selalu bilang kita saudara kembar karena kemana mana kita selalu bersama. Sungguh kenangan indah di SMK Marhadi yang sulit aku lupakan

Setelah ibumu bercerita dengan kalimat kalimat yang mengular bagai gerbong demi gerbong kereta api di stasiun saradan, aku menjelaskan bahwa aku baru mendengar kabar kematianmu. Dan ketika aku mendengar kabar buruk itu dari tinus yang tengah berada di malang, aku langsung bergegas mencari tiket pesawat menuju surabaya. Karena saat itu aku masih berada di Seruyan.

Sungguh aku tidak bisa mendiskripsikan kepedihan ibumu menerima kenyataan ini. Begitupun sedihnya aku, dan samap saat ini aku selalu bertanya pada hembusan angin,

"Zauw…….! Mengapa kau pergi secepat ini? Apakah ini caramu membalasku yang dahulu tiba tiba pergi dari SMK Marhadi di pertengahan semester, tanpa pernah mengabarimu sebelumnya dan kau anggap itu sebagai sebuah penghianatan atas sebuah persahabatan? "

Tapi yang aku sayangkan mengapa kematianmu tidak seperti kematian yang selalu kita impikan dahulu, kematian dengan seragam tentara di medan perang, dan merasakan pelor peluru yang menembus dada itu sebagai sang ridwan yang sengaja datang menjemput kita menuju surga, sungguh kematian yang indah sebagai patriot bangsa.

Zauw! Mengapa kau tak mati di medan perang hingga kau buat bangga aku dan ibumu, mengapa kau mati dengan selimut teka teki yang sulit di pecahkan? Hingga polisi polisi yang sering kau sebut tolol itu masih berusaha mencari penyebab kematianmu! Kau kecelakaan atau dibunuh Zauw….?

Tapi yang jelas aku melihat kegelapan di malam durjana itu!

Jelas sekali bagaimana kebangstan itu menjelma di pucuk pucuk pohon jati yang kedinginan oleh embun. Dan jelas sekali aku melihat kau melaju kencang dengan sepeda motormu di alas jati saradan-petung. Dimana tiba tiba dari dalam kegelapan mencul sebuah truk dari belakangmu, truk itu menatapmu dengan sorot mata penuh dendam, kemudian mengejarmu penuh dendam dan memepetmu hingga kau jatuh dengan penuh dendam pula. Dendampun tak berhenti, truk keparat itu juga melindas kakimu hingga teriakanmu yang teragis itu bersaing dengan derunya yang masih penuh dendam kesumat. Maka disitulah kengerian itu membuncah, raungamu semakin memekakan malam dengan leleran darah yang menggenangi aspal sebelum akhirnya meluber menuju rerumputan sekalipun tanah yang membenci pertumpahan darah dengan acuh menolaknya.

Zauw….!

Tiba tba daun kamboja yang kering namun basah oleh embun tiba tiba menampar wajahku. Sekalipun tidak mampu membuat pipiku memerah namun mampu membangunkan aku dari kebangsatan bayangan berdarah itu.

Berlahan aku usap wajah yang basah dengan sapu tangan merah yang dahulu kau berikan padaku ketika jambore di kresek, akupun kembali memandangi batu nisanmu dan disana tertulis " azar atofani" dan semua orang tahu bahwa ZAUW adalah caraku mengeja kata ZAR, karena semua orangpun tahu jika aku tak bisa mengeja huruf R, karena itu aku kembali terseret pada kedurjanaan malam gelap di alas jati saradan.

Zauw….! Kau masih menggerang kesakitan , menangis berair mata dan berteriak sekuat tenaga, disaat wajah dendam dari dalam truk itu keluar dan mendekatimu dengan sesaji belati tajam di antara jemarinya.

Seketika kau terperangah dan berhenti berteriak, hanya rintihan yang mengiba sinar bulan diantara tirai kabut di batas pagi. Bersama airmatamu yang lebur bersamanya, namun melengket bercampur embun dengan buai mesra sebagai sebuah percumbuan. Tapi, entah sengaja atau tidak sengaja Zauw, kau tak sempat melihat wajah dendam itu tersenyum lebar mendekatimu yang terkap[ar dengan kedua kaki telah remuk dilidas truk yang kini masih terparkir diatas rongsokan motormu yang tak lagi berbentuk.

Wajah dendam itu mengelus elus wajahmu yang masih tampan meski dalam kesakitan. Dalam pandanganmu yang sayu itu lamat lamat kau dapati wajah dendan itu tersenyum pahit dan tentu saja penuh dendam membara, bagai bara api yang membakar seperti puisi puisi kebencian.

Lalu dalam kesayuan itu kau tamatkan siapa wajah dendam itu, maka bibirmnu bergerak gerak merangkai nama "MOUW", tapi wajah dendam itu justru mengecup bibirmu dengan kecupan yang berbaur antara dendam dan cinta, kecupan perman karet dalam kunyahan.

Beberapa menit kemudian gegatan itu lepas, dan wajah dendam masih tersenyum mendapati kau merintih kesakitan mengahrap iba dengan berkali kali menyebut nama Mouw!

Lalu siapa itu Mouw? Mouw adalah iblis berwajah dendam yang memegang belati ditangannya, kemudian menyiset wajahmu dan merusak tahi lalat dipipmu. Hingga terbit sungai darah di wajah kirimu. Samapi kau kembali meraung, berteriak dengan sisa tenaga meski sia-sia. Karena tidak akan ada orang yang datang dengan sedikit rasa iba. Sebab para setan telah menutup telinga mereka, menutup hati mereka, menutup kelamin mereka dengan ibadah zina.

Oh………! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika wajah dendam itu mencucrup darah dipipimu dan meminumnya, sungguh, betapa segarkah darahmu hingga kau dibiarn tetap merintih kesakitan. Serasa sekarat dengan nyawa yang btak bisa aku terka keberadaanya.

Malam makin larut zauw, dan tetap saja kau belum mati, sebagai tentara kau masih bertahan meski dengan separuh nyawa. Sedang separuhnya lagi telah direnggut oleh si wajah dendam yang berlahan menggerat lehemu hingga darah tak muncrat, sementara kau Zauw? Ah aku tak tega mengatakannya, apalagi ketika si wajah dendam itu kembali kedalam truk kemudian memundurkannya hingga menhilang. Namun tak beberapa lama dia kembali dengan laju yang kencang, dan dengan sejuta kebangsatan, semilyar kedurjanaan, ia melindasmu penuh dendam. Memuncratkan darahmu dipenjuru aspal, remukkan tubuhmu hingga hancur tak lagi berbentuk samapai hilang wajah tampanmu yang dulu menggoda aku yang sahabatmu, sahabat yang tiba tiba tidak normal karena dibuai kesempurnaanmu.

Lalu siap Mouw?

Siapa Mouw sang manusia berhati iblis berwajah dendam? Siapa dia? Siapa………………….?

Asal kalian tahu, aku! Akaulah mouw itu! Mouw sang manusia berhati iblis berwajah dendam yang membunuh orang yang selama ini diam diam dia sayang. Dan aku puas telah meremukkan tubuhmu, meremukkan wajahmu, lalu kenapa aku mesti mrmbinasakanmu Zauw?

Zauw ! aku binasakan kau bukan karena aku cemburu karena selama ini kau lebih sering dicintai gadis gadis daripada aku, sementara aku sendiri mempunyai rasa terhadapmu!

Aku membunuhmu agar aku tak pernah lagi jumpa denganmu. Agar aku tak selamanya menggubah rindu. Dan dengan membinasakanmu aku tak akan pernah lagi mengharap cintamu!

Tapi mengapa dihatiku masih ada kamu Zauw?

Posted by awanswarga On 21.06 No comments READ FULL POST

Minggu, 19 September 2010



by Awan swarga

Bayu duduk terdiam di bangkunya, tampaknya dia tak lagi perduli pada anak-anak lain dalam kelas ini. Membiarkan saja mereka menghujaminya dengan hinaan dan cemoohan kasar memerahkan telinga, seolah mereka ingin membunuh dia sampai benar benar mati.

Sungguh, dia hanya mampu diam, bertahan dengan tubuh kaku menggigil namun keringat deras yang justru membasahi seragam putihnya.

" Tuhan..! sampai kapan aku mampu bertahan?"

Dia bertanya pada tuhan yang ia sanksikan, apakah tuhan mendengar pertanyaannya itu.? Adakalanya dia juga berfikir jika tuhan itu mendengar namun pura-pura tak mendengar karena tak sudi menolongnya.

Berlahan telapak tangan bayu menyapu keringat yang keluar dari pori-pori wajah tampannya. Sepertinya ia ingin berteriak tapi ia tak kuasa mendengar gela tawa hina yang merendahkan dirinya.

" santy,, lihat cowok kamu! Masa dia datang ke sekolah dengan garnisun!

Kaya narapidana yang mau di angkut kepenjara aja!"

Agus melirik wajah santy yang tersenyum mengejek bayu

" aku akan fikir fikir dulu deh, apa dia tetep jadi cowoku atau enggak...!"

Santy melengos acuh seolah tidak mau melihat tampang cowok yang sebelumnya pernah ia puja sebagai pangeran hati dalam hidupnya sambil mengoles lip ice di bibir cantikknya. Maka hati bayu makin hancur seperti debu yang melayang di hempas angin truk sampai terbenam ke dalam lumpur biadab yang telah menghancurkan hidupnya, selain menenggelamkan rumahnya di perumtas, lumpur durjana itu juga telah merenggut ayahnya di malam bangsat itu

Kala itu malam menghening, seperti biasa jalan tol gempol-porong di rambati kendaraan bermotor, salah satunya ayah bayu yang pulang dari probolinggo. Sementara angin malam berhenbus pelan menerpa debu-debu yang memadati tanggul lumpur, di kejauhan asap pusat semburan lumpur masih tebal menyembur bagaikan gunung berapi, asap itu makin meninggi hingga seperti menggapai langit dan berpasang pasang mata yang melintas tampak mengamati penuh kekaguman, tapi..

" DUAR......................................................................................"

Suara ledakan dari pipa gas pertamina menyeruak memecahkan keheningan malam nan panas, api bergelora memerah bagai bom atom yang meledak menghancurkan tanggul lumpur, seketika lumpur panas meluber dan membanjiri jalan yang sarat kendaraan, termasuk diantaranya motor ayah bayu yang terjebak diantara padatnya kendaraan dan luberan lumpur yamg makin membanjir deras tak kenal ampun. Bagaikan lava gunung berapi yang semakin membenamkan tubuhnya hingga melepuh kemudian menghanyutkan tubuh dan nyawanya

Seketika bayu menghentikan lamunannya , suara dehem pak abdul, seorang guru bahasa inggris yang baru saja masuk kelas itu mengusik kekusyukan lamun tak berarti namun sulit untuk di hapus dari bena yang mulai keruh sekeruh luberan lumpur menggenang di tanggul pengendali.

***

Angin mendesir pelan menyibak dedaunan yang berguguran dari dahannya, seiring celana abu abu bayu melangkah pelan menemani sepatu hitam kusam di balut debu. Matanya begitu gamang menatap garnisun yang terparkir nenantinya dan teman-temannya di depan gapura sekolah.

Dalam kekosongan fikiran bayu menghilang diterpa angin dan tenggelam di teriknya matahari siang, sayu sayu terdengar suara santi memanggil dari belakang , mungkin tak tahu atau pura pura tak mendengar bayu terus berlalu bagai tak perduli tanpa menengok kebelakang sekalipun suara itu makin jelas bersama detak sepatu yang makin mendekat.

" bayu tunggu...."

Pinta santy seraya melingkari jemarinya kepergelangan bayu, seolah takut jika bayu kabur meninggalkan dia sebelum sempat bicara. Dan dengan wajah cuek bayu menatap wajah santy yang tampak terengah engah

" yu...! maafkan aku tentang masalah tadi, aku gak bermaksud melukaimu"

" aku gak terluka!" seru bayu sederhana menskak ucapan santy

" yu sebenarnya aku masih sayang sama kamu". jemari santy mekin erat melingkari pergelangan bayu

" jadi begitu caramu menyanyangi aku? aku kecewa san.........!"

Teriak bayu sambil menghempaskan tangan santy yang sedari tadi melingkari pergelangan tangannya, wajahnya penuh amarah, memerah bagai termandikan darah seraya menatap santy yang mulai canggung karena ia tak pernah melihat bayu berteriak sekasar itubpadanya

" mestinya kamu sadar bayu...! kamu tak seperti dulu lagi, aku harus mulai belajar mencintaimu dengan keadaanmu sekarang..........."

" dan kamu malu dengan keadaanku sakarang, sebaiknya kamu lupakan aku agar kamu tak tertimpa sial seperti aku, kamu malukan punya cowok sepert aku?"

Ujar bayu kasar yang membuat santy lari menjauh tanpa menjawab lagi pernyataan bayu. Namun sepertinya bayu tak butuh jawaban santy karena sudah mampu ditebak oleh desir angin panas yang meraba wajah bayu.

***

Mata mata manusia belum berhenti menatap kegaduhan yang telah berlalu beberapa saat lalu, mungkin di ayal mereka masih terlintas ketika suara berteriak lantang saling menyalahkan antara bayu dan ayu kakak perempuannya

Dan sekarang pertikaian antara dua insan manusia itu telah berakhir, namunpergunjingan dalam kompleks penampungan pasar baru porong belum jua terhenti, bahkan justru makin menjadi seperti hujan beriringan jatuh bergemericik sekalipun halilintar tak lagi terdengar. Sementara bayu dan ibunya hanya bisa terdiam menndengar bisi-bisik pergubjuangan yang menusuk bagai timah panas terbakar oileh api, air matanya mengalir menerjuni dua belah pipinya sampai jatuh merembes di kaos distro merahnya, yang merah semerah darah mengalir di gemuruh pepoerangan.

***

Sepotong bulan separuh remang remang mengintip dari balik kabut dengan raut muka yang tampak letih, cahaya yang gamang itu berusaha menembus keramaian jalan-jalan di kota sidoarjo. Ketika cahaya lampu kendaraan bersinar menghiasi panasnya udara kota oleh sesak asap knalpot yang mengepul dari kendaraan yang berjejalan di punggung aspal.

"tinn.......................nn......................nn............................."

Bunyi klaksonj berteriak lantang meriuhkan suasana yang begitu berisik

" brengsek, nyebrang lihat lihat goblok...........!"

Ucapan kotor mengudara dari bibir seorang pengendara APV yang mengerim mendadak karena menghindari bayu yang menyebrang jalan.

Sementara bayu yang hampir ditabraknya hanya diam tak berkata apa-apa, sekedar sedikit melirik kearah pengendara mobil tersebut, dalam pandangan anehnya bayu begitu terkejut menadapati ayu kakaknya duduk disamping lelaki yang hampir menabraknya tadi, di lihatnya ayu berpakaian begitu minim penoh pesona nan menggoda. Tapi dengan acuh dan seolah tak kenal bayu segera berlalu tanpa menengok lagi kakaknya bersama lelaki seumuran ayahnya yang mungkin adalah teman kencan ayu malam ini.

Sesaat angin berhembus melintasi wajah bayu yang begitu gerah, gerah tubuh juga pikirannya, dan sesekali suara klakson kembali menyeruak mengusik sebentar kehiruk pikukan itu

Dalam diamnya bayu berjalan terghesa menginjak lantai pafling trotoar di depan barisan ruko menatapnya aneh. Sepertinya ruko ruko itu ingin tahu apa yang di sembunyikan di balik jaket coklat bayu, karena bayu begitu merahasiakannya dengan terus memegang erat seolah pekatnya malampun dan redupnya lampu menggantung di atas pohon pohon beringin tak layak untuk mengetahuinya. Namun bayu nampaknya semakin tak perdulim saja dengan apa yang ia bawa tapi dia malah melamuni pertengkaran dengan kakaknya siang tadi.

" maafkan aku bu...! aku tak bermaksud membuatmu menangis...!"

Bayu mengusap keringat dibahunya sambil sedikit menyesali pertengakaran siang tadi. Entah siapa yang memulai pertengkaran itu, hingga memebesar sampai terdengar seperti sebuah sandiwara yang disaksikan oleh orang orang di seantero pasar, ia sadar bahwa sekarang ini kakaknya telah menjadi pelacur yang menjual tubuhnya hanya demi lembaran rupiah. Hal inilah yang menyulut api pergunjingan hingga asapnya menyusup di telinga ibunya yang sungguh tiada mengerti dan mengakibatkan dia kini di rawat di Rumah Sakit Bayangkara Sidoarjo karena seranghan jantung.

Tampak bulan telah benar benar letih dan semakin menghilang di telan kabut, sementara punggung jalan masih dipadati kendaraaan dengan deru kesombongannya mengusi malam yang semestinya penuh keheningan. Dan tubuh bayu yang terbungkus jacket coklat berstelan jeans biru itu ikut menghilang kedalam kegelapan sebuah gang yang sepi bagai kompleks pekuburan. Hanya sekedar bolam kecil menggantung lemah berusah memberi secerca cahaya kemerah merahan. Berlahan sandal slop bayu bagai mendesir bdi tanah berpasir, matanya menatap tajam tiga orang berdiri tersandar pada tembok gedung dengan bata merah, satu diantara mereka berbadan tinggi besar sedang lainnya tampak biasa saja, bahkan tampak lebih ramah.

Bayu berjalan sedikit canggung, langkahnya melambat mendekati lelaki yang mungkin menunggu sedari tadi. Sesekali tangannya memegangi buntelan di saku dalam jaketnya.

" mana barang bos........?"

Tanya salah satu orang itu sambil memmbuang puntung rokok begitu bayu telah mendekatinya. Dan dengan agak gemetar dan wajah meredup bagai cahaya merah lampu bolam bayu menyerahkan bungkusan tersebut.

"ini mas,,,,,!" ujarnya lirih

" santai saja....! gak usah canggung! Kita semua teman kamu kok.......1"

Seru salah satu orang yang lain sambil tersenyum mengerti keadaan bayu, karena masih tampak begitu polos untuk menjadi anggonta sindikat pengedar narkoba seperti dirinya.

***

Burung malam terbang melayang seolah menari lemah gemulai di panasnya udara malam. Terasa gelap gulita jalan yang sepi bagai sebuah kematian di antara rumah yang terdiam tanpa sedikit menyapa bayu bersama kegontaiannya.

" demi tuhan aku tak bermaksud berbuat dosa'

Desah bayu disambut hembusan angin menghemp[as tubuh panas kegarahan bersama daun daun berguguran di atas aspal berlubang.

" sesungguhnya aku ingin membayar biaya [perawatan ibu dengan uangku sendiri, bukan dari hasil pelacuran kakak, sekalipun kedua duanya haram!"

Sambil berjalan sedikit gontai bayu meremas remas rambut hitam yang terbenam malam dengan tangannya yang gemetaran dan mata berkaca kaca seolah langit yang akan segera turun hujan dan menumpahkan setitik bening sebening embun yang mulai menyelimuti batas malam di kesepian tanpa sepotong cahaya. Hanya seredup lampu perumahan yang begitu pelit untuk sekedar memberi sinar bagi bayu yang kegelapan baik raga maupun hatinya di saat ini.

" tuhan selama ini aku jauh darimu! Dan aku baru teringat padamu ketika kepedihan ini melanda hidupku yang termanja oleh kesombongan. Namun kini kini tiada lagi kebanggaan yang patut aku sombongkan. Kini hanylah kejatuhanku yang terlampau dalam untuk kembali memanjat keatas...!"

Berlahan air mata benar benar berlinang menerjuni dua belah pipinya. Menangisi kenyataan hidup yang telah berputar seratus delapan puluh derajat dan menjauhkannya dari kebanggan semu selama ini ia sombongkan dihadapan semua orang.

***

Suasana hening tampak meresapi segala kesedihan, tangis itu pecah, mengalir deras dari kelopak mata yang sayu menatap seorang ibu berbaring tanpa nyawa dengan berselimut kain putih . matanya tertutup, bibirnya membiru , wakjahnya memucat seolah ingin meyakinkan pada bayu dan ayu yang menangis terisak di sampingnya bahwa nyawa dan raga itu telah berpisah.

Rela ataupun tak rela bayu dan bayu harus merelakan seorang manusia yang selama ini mempersembahkan kasih sayang dan kebahagiaan bagi mereka. Sampai mereka terlelap dan terbuai menikmati hidup hingga akhirnya lumpur jahanam itu tiba tiba muncul memporak porandakan kebahagiaan yang lama tercipta. Yaitu nkebahagiaan sebuah keluarga yang kiranya akan segera menjadi kenangan dan mimpi lama tanpa akan menjelma nyata ketika mandadak ayahnya direnggut kekejaman maka kepedihan ini lengkap sudah kala seonggok tubuh rapuh seorang ibu itu di renggut pula. Dibawa pulang kenegeri jauh entah dimana letakknya.

" nasi telah menjadi bubur, semua telah berakhir karena memang harus berakhir"

Ayu membelai rambut adiknya berlahan, lantas menatap dua polisi yang menjaga didepan pintu kamar. Mungkin ia sadar jika waktunya disini tak akan lama lagi untuk sekedar membelai dan memberi kasih bagfai seorang ibu pada adik satu satunya. Sebab ia haruis mempertanggug jawabkan perbuatanya semalam, enatah dirasuki setan apa dia hingga dia tega membunuh teman kencannya yang semalam tak sengaja bertemu bayu.

Air mata ayu makin deras mengalir membanjiri pipi merah namun sedikit kusam oleh hempoasan badai debu, sepertinya dia begitu menyesali perbuatan yang telah ia lakukan sekalipun itu terlanjur terjadi. Dalam hatinya seperti merasa bahwasanya semua telah menakdir sementara takdir sangat tabu untu di salahkan

***

Air mata masih menetes dari kelopak mata bayu yang sepertinya sudah mualai merasakan lelahnya. Dalam dinginnya gerismis sore hari bayu terdiam memeluk erat batu nisan yang tertancap di kepala pusar ibunya. Dan ia hanya mampu merasai perihnya hidup tanpa orang oranmg terkasih ada disisi yang telah pergi satu persatu meninggalkan kesendirian untukknya

" ibu, ayah, mengapa kalian pergi? Membiarkan bayu sendirian tanpa ada teman dalam kehancuran ini?"

Semakin erat bayu memeluk nisan seperti dia telah memeluk erat tubuh ibunya yang sekarang telah hilang, mati atau disebut binasa.

Angin berhembus, meniup niup telinga bayu seolah berbisik padanya untu menengok sejauh mana kakaknya berjalan bersama kawalan ketat polisi meninggalkan areal pemakaman. Seiring hujan yang makin deras membasahi tubuh bayu bersamam kelemasan seolah hampir mati, akhirnya bayu menegok kakaknya yang digelandang keatas mobil polisi.

"mengapa rasa itu baru muncul ketika semua telah berakhir"

Bayu membiarkan butiran butiran air mata di pipi tergerus derasnya hujan diserati kilat lengkap dengan sepaket petir menyambar nyambar bagai ingin membelah dunia yang kini di huni sekukmpulan makhluk penuh dosa dan nista.

Di bola mata bayu yang hitam tampaklah mobil polisi berlalu, meninggalkan dia sendirian sertta membawa kakaknya, ayu untuk di penjarakan. Sungguh hidup itu terasa begitu ingin membunuhnya yang kini menggigil kedinginan terhujani derasnya air dan kencangnya angin yang hempaskan tubuhnya jauh kedalam kejatuhan.

***

Angin kecil bertiup manja menerbangkan debu debu di atas tanggul lumpur yang mulai retak tertekan luberan lumpur. Dari kejauhan tampak pusat semburan lumpur panas mengepulkan asap membumbung tinggi samapai menyentuh langit mendung. Menggantung bersama awan namun tak segera turun hujan.

Di situlah bayu duduk termenung, menatap kosong pusat semburan lumpur biadab yang telah menghancurkan kehidupannya hingga seperti saat ini. Dalam kekosongan hati dan perasaan ia merasai panasnya yanmg menambah kegerahan kala mendung menggumpal menyelimuti hampir seluruh penjuru langit yang semestinya terik.

Meski mengenakan seragam putih abu abu, hari ini bayu membolos sekolah. Bahkan dengan seragamnya itu dia tak menginjak sejengkal tanahpun di sekolah. Dan mulai dari sekarang diam telah memutuskan bahwa dia tak akan meneruskan sekolahnya lagi. Mungkin dia telah terlampau malu pada teman temannya atau mungkin karena ia tak sudi lagi mencicipi basa basi pelajaran di sekolah.

Dalam perasaan yang seperti seperti ingin mati dengan menatap BPLS bekerja menyedot luberan lumpur untu di buang ke kali porong, tiba tiba ia merasa ada satu tangan yang meraba pundaknya. Seketika bayu menegoknya, ia ingin tahu siapa yang ada di belakannya. Dan iapun mendapati seorang santy berdiri tersenyum simpul di tiup hembusan angin yang melambai lambaikan rambut panjang hingga aroma wangi shampo selsun mengisi bagian dari mudara yang di serbu wangi kepedihan lumpur lapindo.

" santy ! mengapa kamu kemari?"

Tanya bqayu seperti tak percaya

" aku sengaja bolos untu mencari kamu, eh ternyata kamu di sini....!"

Ujar Santy sambil duduk di samping bayu seolah ingin menikmati pemandangan menyedihkan tersebut.

" untuk apa kamu mencari aku?"

" karena aku sadar, ternyata aku sayang sama kamu, akhir akhir ini aku memang terlalu gengsi untuk menagkuinya, namun sekarang aku tak lagi perduli apa kata orang"

Santy tersenyum sambil sesekali merapikan rambut indah itu menutupi wajah eloknya.

" apa kamu yakin sayang sama aku?"

" bayu..........! aku yakin, sangat yakin! Aku rela berbuat apapun untuk membuktikan jika aku benar benar sayang sama kamu!"

Santy berusaha meyakinkan bayu dengan ekspresi penuh keseriusan.

" santy, apa kamu mau mati bersama aku yang tak punya arti lagi di dunia ini?”

Tanya bayu sekali lagi sambil menatap santy penuh iba, entah kenapa. Sementara santy langsung memeluk tubuh erat bayu takut dia benar benar akan mati meninggalkannya, bayu membelai tubuh bayu dalam pelukannya seraya berbisik:

" jika itu bisa meyakinkanmu bahwa aku benar benar sayang padamu, aku rela bayu!"

***

Sekali lagi angin berhembus menerbangkan debu hingga jauh pergi lalu menghilang, luberan lumpur terlihat bagai ombak mendebur di tepi pantai. Namun baunya menyimpulkan sebuah kesedihan mendalam tak mampu berubah menjadi kesegaran aroma pantai yang menyejukan hati.

Kala matahari mulai tampak memancarkan sinarnya setelah sekian lama bersembunyi di balik mendung kelam sekelam lumpur hitam yang tak henti meluber, tangan bayu dan tangan ayu begitu erat bergandengan. Berdiri tegak di atas tanggul seraya menatap asap pusat semburan lumpur masih membumbung tingggi menghitamkan langit dan nasib orang orang tak berdosa karena keserekahan sekelompok manusia.

Senyum merekah dari dua bibir yang merah semerah darah yang pernah mengalir bagai anak sungai. Mata saling menatap seolah ada sejurus keyakinan. Sedang angin berhembus begitu kencang karena mungklin sadar bahwa ini belaian terakhir untuk dua anak manusia yang berdiri menantangnya.

" demi kehidupan yang jahanam dan merenggut kebahagiaan hingga aku tak berdaya!"

Ujar bayu begitu lantang menantang langit, dan disusul teriakan santy

" demi cinta yang tak pernah mati,,"

Santy mengecup bibir bayu begitu mesra sementara angin berhembus lagi menerpa debu hingga melayang layang seolah mendorong dua sijoli itu terjatuh dalam debur ombak lumpur bersama ciman yang tenggelam dibawah lumpur, terbenam dan benar benar menghilang dalam kekeruhan yang panas, melepuhkan kulit meremukkan tulang.

Akhirnya mereka dan ciuman terakhir itu benar telah tiada lagi, di telan lumpur yang keruh sekeruh nasib bayu dan sebodoh nalar santy yang rela berkorban demi cinta. Dalam keheningan dan desiran angin yang tersisa hanyalah secarik kertas terhemnpas, teromabag ambing di antara debu debu beterbengan menyesakkan, sementara sebuah tas wanita merah muda hanya bisa diam seolah mengamati secarik kertas bertuliskan:

Dear semua umat manusia

Jangan sampai kalian terbuai keserakahan bila tak mau membunuh dirimu dan orang orang dekatmu bahkan orang tak berdosa yang tak mengenal dirimu sekalipun.

Maafkan kami tuhan

Bukan maksud mendahului kodratmu, tapi sungguh aku tak mampu. Dan bila hukuman menunggu kami, maka hukumlah diriku saja, karena dia hanya wanita polos berhati mulia semulia intan yang berkilauan bagai matahari senja.

Tuhan dengan cintamu aku hidup, dan dengan cintamu pula aku berharap akan mengantar kepergianku keperaduanmu. Akan ku biarkan kepedihan dunia dalam satu nestapa yang mati bersamaku bukan lagi untuk di sisakan yang lain. Biarlah mereka bahagia.

Tuhan, ku harap Kau menungguku meski dengan siksa yang akan meremukkan tubuh dan tulang tulangku. Tapi biarkan aku menikmati ciuman terakhirku di bawah lumpur.

Seorang manusia penuh dosa

Posted by awanswarga On 10.32 1 comment READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube