Contact us

Masjid  (Robohnya Pluralisme)


Masjid

(Robohnya Pluralisme)

by awan swarga

“ kretek kretek…………..”

Rintih pohon jati tua karena tiupan angin yang membawa gumpalan awan hitam dari timur. Sehingga memenuhi penjuru langit.

Di senja ini yang ada hanya hawa dingin menusuk tulang. Bersama gerombolan kekelawar ngikik memutari bangunan masjid tua yang tidak terurus. Masjid yang temboknya tampak kusam dan pelesterannya telah ambrol di gerogoti lumut. Bahkan ruang wudhunya sudah ambruk di terjang hujan setahun lalu. Sementara pelatarannya yang luas itu kini menjadi lautan sampah berhamburan. Serta menjadi gumulan rumput ilalang lengkap dengan puluhan hewan melata di dalamnya.

“kretek kretek…………”

Pohon jati dibelakang masjid tua itu masih merintih. Sedang sang angin brengsek makin gemar mempermainkannya. Membiarkan dedaunan keringnya rontok menghujami atap masjid yang tak lagi karuan. Karena sebelumnya lebih dahulu di awut-awut oleh angin dan kejamnya hujan di bulan yang sebenarnya sudah kemarau. Sehingga jika hujan datang, seketika ruang tanpa atap itu tak luput dari amunisi air yang menghujam dari angkasa. Dan tentu saja ubinnya makin meleleh di bunuh hujan setelah terik mengintai. Maka ruangan kotor dan tampak angker itu tidak lagi layak di sebut masjid. Apalagi orang orang juga tak pernah sudi menyinggahinya. Mungkin mereka takut pada persekutuan setan dan iblis yang menghuninya. Kecuali jika mereka yang sengaja mengundang manusia untu datang.

“kretek-kretek……………”

Dasar angin brengsek! Dimana ia menyimpan rasa kasihan? Hingga dia tak memperdulikan tubuh jati makin kesakitan. Sampai jati tua itu menjadi terhadap sebuah tragedi di malam keparat. Ia teringat ketika hujan lebat bersanding dengan suara petir manyambar saling berkelebat bagai datangnya iblis yang lewat. Suaranya dar-dur-der………, seolah langit akan roboh.

Dalam kegelapan tanpa penerangan, sang pohon melihat tiga ekor manusia jantan datang dengan menyeret seekor gadis betina dalam keadaan telanjang bulat. Dan tragisnya mulut betina itu di bungkam dengan celana dalam hingga ia tak mampu lagi berteriak. Selanjutnya dengan bergiliran gadis itu diperkosa hingga robek kemaluannya. Tapi entah,,! Apa betina itu masih perawan atau justru telah robek sebelumnya? Namun langit tidak pernah memperdulikan hal itu. Karena ia terus saja menumpahkan airnya di daratan. Sementara auman keras sang petir semakin menakutkan. Dan yang pasti keesokan harinya mayat betina dengan segudang noda itu di temukan terkapar tanpa busana di atas lantai masjid yang basah oleh hujan di malam sebelumnya. Maka lengkaplah keangkeran yang tertanam di bekas masjid malang itu.

Dan setelah kejadian itu, hampir setiap malam sebelum ke seratus hari setelah kematiannya, para warga selalu di hantui suara perempuan kotor yang selalu terdengar menangis menghiasi malam. Sehingga malam terasa semakin angker saja.

Tapi kini warga tak lagi perduli. Sebab mereka berfikir bahwa bangkai masjid tua yang malang itu tak lagi menjadi bagian dari kehidupan mereka.

“ kretek-kretek…………”

Pohon jati semakin tersa nyeri dan tetap merintih kesakitan diantara godaan angin brengsek. Sementara kekelawar juaga masih ngikik mengitari masjid seolah melakukan sebuah peribadatan sebelum hujan benar benar datang. Dimana sang hujan budiman itu pasti akan menambah rapuh kayu kayu masjid yang telah lapuk. Dan ketinggalan akan merusak jala laba-laba yang seharian dirajut di seluruh ruangan masjid.

Lalu dimana hantu wanita itu?

Mengapa dia tidak lagi menangis?

Dan tak pernahkah terlintas di bena warga untuk mengingat kejayaan masjid jami’ yang bernama AL ANNUR itu?

Tapi bila mereka tidak lagi sudi untuk mengenangnya . setidaknya kalian yang harus selalu mengingatnya! Karena aku akan menceritakannya.

***

Dahulu

Iya, dahulu sekali dusun kecil di kaki gunung wilis begitu damai dengan kemajemukan. Tiga aliran muslim di satukan oleh seorang kyai besar. Entah siapa nama kyai itu? Namun warga memanggil beliau dengan gelar Mbah Kaji. Tiga aliran keagamaan yang berbaur itu adalah mereka kaum Nahdiyin, Muhamadiyah dan islam Kejawen. Mereka adalah aliran yang berbeda dan memiliki haluan masing-masing tentang keagamaan mereka.

kelompok Nahdiyin yang semi tradisional adalah kelompok yang paling mendominasi kampung,, karena Mbah Kaji memang berasal dari kelompok ini. Sementara Muhammadiyah yang mengaku lebih modern hadir karena di pelopori anak-anaknya setelah mereka pulang dari menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi . Di sisi lain penganut islam kejawen berkelompok di sekitar pepunden di pinggir kota.

Namun dengan kharisma Mbah Kaji yang begitu kuatlah yang membuat umat Islam di kampung pinggir hutan menjadi kampong religius yang majemuk. Hidup rukun tanpa gesekan idealisme dan di dalam masjid AN NUR ini mereka dipersatukan. Disinilah segala macam aktifitas keagamaan di adakan. Tanpa memandang kelompok dan golongan, baik mereka dari Nahdiyin, Muhammdiyah bahkan Kejawen sekalipun. Sementara kekeluargaan warga di perhangat dengan sedekah bumi atau gugur gunung yang di gelar setiap tahun setelah musim panen padi selesai. Di saat itu warga di hibur dengan tanggapan wayang kulit semalam suntuk.

Namun sayangnya pluralisme itu kini hanya sekedar kenangan lalu bagi warga, bagi desa permai dan bagi masjid yang kini merana. Jangankan kegiatan besar, akhirnya orang-orang pun tak lagi sudi mampir sejenak untuk menyinggahinya. Bahkan meludah sekalipun mereka tak mau.

Hal itu terjadi setelah kematian Mbah Kaji. Dimana berlahan-lahan tiga kelompok itu pecah. Mereka jadi saling mempersalahkan cara beribadah satu sama lain. Dan ketika cucu dari Mbah Kaji yang Muhamadiyah itu jadi kepala desa, dia melarang di adakannya gugur gunung, karena ritual yang ada dalam acara itu dekat dengan kemusrikan.

Semakin lama keadaan Muhamadiyah yang sebelumnya dianggap anak ingusan seketika berkembang pesat. Sementara Nahdiyin mulai kehilangan pembesar yang satu persatu dari mereka pulang ke hadirat Tuhan. Disisi lain anak mereka yang berpendidikan juga berpaling ke Muhamadiyah. Ini karena organisasi tersebut memang jauh lebih lebih modern dan terorganisir serta aksi-aksi nyata disbanding kaum Nahdiyin yang kuno. Tapi apapun alasannya, yang pasti keadaan Islam Kejawen makin terpinggirkan dengan bertahan di surau kecil mereka.

Dan kekacauan akhirnya membuncah di suatu idul fitri, di mana Shalat Ied dilaksanakan tiga kali berturut-turut selama tiga hari pada masjid yang sama. Yaitu masjid jami AN NUR. Mungkin inilah pangkal dari kemeranaan masjid Jami’ ini. Karena akhirnya muncul pendapat entah dari siapa? Bahwa masjid tidak boleh digunakan untuk shalat Ied lebih dari satu kali. Sampai akhirnya masing-masing kelompok berlomba mendirikan masjid untuk kelompok mereka sendiri. Hingga ujungnya masjid Jami’ yang dulu menjadi pusat peribadatan jadinya tidak terawat.

“kretek-kretek……………..”

Angin berengsek masih saja berhembus. Dia tetap saja memperdayai pohon jati yang sebenarnya telah rapuh. Karena terlalu sering di bunuh buliran yang makin deras. Dimana kilat menyambar dan petir menggelegar. Sementara suasana makin gelap dan udara semakin dingin. Biarkan jadi beku, kaku dan bisu.

“Persetan…” mungkin bisik angin dengan sinisnya. Selanjutnya angin yang mengaku berengsek itu berhembus makin kencang berhembus, makin kencang menampari pepohonan. Hingga goyah dahannya dan rontok terkapar di daratan.

“Persetan” sungguh angin marah dan lari makin kencang menabrak pepohonan hingga beberapa pohon tumbang.

“ keretek…………keretek……….push! brukkkkkkkkkkkkkk……………………..”

Akhirnya pohon jati tua penjaga masjid merana itu roboh juga. Batangnya yang besar ngglinting menimpa reruntuhan masjid hingga benar-benar runtuh tanpa keraguan, karena bangunan tersebut telah rata dengan tanah. Sementara jauh diatas sana tampak langit menangis tersedu. Bereteriak keras sebagai petir. Tapi seolah bagai seorang ayah yang tidak pernah punya dosa, angin berengsek itu dengan mudahnya berlalu meninggalkan puing yang dihasilkan dan lebih memilih menghampiri manusia-manusia yang bersembunyi di dalam rumah, sekedar menyeduh kopi lalu makan ubi. Dan disanalah angin itu berbisik:

“Persetan kau masjid runtuh,

Sebab sedikitpun mereka tak lagi butuh,”

0 Reviews:

Posting Komentar